Tampilkan postingan dengan label Tafakur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafakur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2011

Jangan Lebay Ah.....


“Jangan Lebay Ah…”

Kemarin siang aku dan beberapa teman (pastinya diantar suamiku dong! Hehe…) datang ke sebuah syukuran pernikahan. Setelah salaman dengan kedua pengantin, biasa dong kita antri makanan. Sambil antri, aku masih sempat melihat beberapa waiter yang bulak balik membereskan piring-piring maupun gelas-gelas yang sudah dipakai. Aduh sedih aja, di piring-piring itu masih banyak sisa-sisa makanan yang tidak dihabiskan. Kenapa mereka-mereka itu kok ambil makanan tapi tidak mengukur keadaan perutnya yah..? Atau mungkin rasa makanan tersebut jauh dari bayangan makanan enak? Kalau sudah memang kenyang atau baru mau coba dulu, mbo’ jangan ambil makanan terlalu banyak atau berlebihan….

Aku juga langsung mengambil makanan secukupnya saja. Daripada nanti terbuang tidak dimakan…jadinya mubazir lagi!! Jangan lapar mata atau mengikuti hawa nafsu semata. Rasanya emang kalo liat macam-macam makanan, mungkin semua ingin dicoba. Tapi coba liat kapasitas perut atau pikirkan apa memang rasa makanan itu akan cocok dengan lidah dan bayangan kita? Jadi tidak usah terlalu banyak mengambilnya.

Terbayang di sekitar kita pun banyak yang susah mendapatkan makanan yang cukup. Banyak orang miskin maupun anak-anak kecil yang pada belum makan. Boro-boro mikirin makan itu bergizi bin sehat atau nggak. Untuk bisa mengisi perutnya saja, mereka itu sudah pontang-panting, banting tulang pake panas-panas atau berhujan-hujanan….Subhanallah kita yang begitu mudahnya bisa mendapatkan santapan makanan, malah asik-asik aja buang-buang makanan….Aduh, plisss jangan lebay…..

Mulai sekarang cobalah untuk membiasakan secukupnya…jangan berlebihan. Aku mau mencobanya!! Semua dikondisikan dalam kondisi “CUKUP” jangan berlebih-lebihan….makan dan minum secukupnya, jangan sampe kekenyangan, waktu nonton TV juga cukup, komsumsi acara TV yang penting ajah (maksudnya yang bawa manfaat hehe…kalo infotainment nggak perlu semua diplototin hihi…), beli baju secukupnya…kalau beli dua baju baru, paling nggak ada satu baju yang harus keluar dari koleksi untuk disedekahkan….

Mensyukuri nikmat Allah dapat dimulai dari hal-hal kecil saja dulu….bersyukur masih bisa bangun pagi hari ini dan merasa sehat, masih bisa menghirup udara secara gratis, air di rumah dapat mengalir tanpa macet, masih bisa sarapan pagi, masih bisa berjalan pagi, masih bisa hidup sehat tidak sakit, masih bisa tidur dengan nyaman, masih bisa menikmati kenyamanan rumah, masih bisa menemani anak-anak bikin PR, masih bisa mengobrol dengan suami tercinta, masih bisa shalat berjamaah dengan suami dan kedua anakku, masih..masih..masih…. Subhanallah Allah telah berikan nikmatNya yang indah dalam hidupku..Alhamdulillah….

Semoga aku bisa hidup dengan “CUKUP” (dan berkecukupan, bukan hidup berlebihan) sehingga aku akan selalu dapat merasakan nikmat karunia Allah dan selalu bersyukur alhamdulillah pada Sang Rahman, supaya Allah akan melimpahkan lagi nikmat karuniaNya lagi…..insya Allah….

Terima kasih ya Allah…untuk semua yang terjadi dan nikmat dalam hidupku ini….

Regina
Bandung, 26 Januari 2009

DIA Memberi Yang Kubutuhkan

Sekedar untuk renungan & tafakur :

Rasul mengatakan “Bertafakur sejenak, lebih baik daripada ibadah satu tahun”.

"Dia Memberi Yang Kubutuhkan”

Ketika aku mohon kekuatan,
Allah memberikan aku kesulitan sehingga aku kuat.

Ketika aku mohon kebijaksanaan,
Allah memberiku masalah untuk aku pecahkan.

Ketika aku mohon surga,
Allah menghujaniku dengan ujian-ujian.

Ketika aku memohon pengampunan dosa,
Allah memberikan rasa sakit.

Ketika aku mohon kesejahteraan,
Allah memberiku akal untuk berpikir.

Ketika aku mohon keberanian,
Allah memberiku bahaya untuk kuatasi.

Ketika aku butuh cinta,
Allah memberikan orang-orang bermasalah untuk kutolong.

Ketika aku mohon cinta,
Allah memberiku musibah untuk kuanalisa dengan akal dan kalbu.

Aku tak pernah menerima apa yang kuminta,
Tapi aku menerima apa yang aku butuhkan…


Subhanallah…

Sumber : “Sentuhan Kalbu”

Sekedar renungan dari apa yang ditulis di atas, kadang kita sebagai manusia suka banyak meminta ini dan itu kepada Allah SWT…misalkan dengan banyak berdoa dengan daftar permintaan, permohonan dan keinginan sebanyak 1001 macam…

Namun kita juga suka (sering malah), ternyata kita lebih sering meminta kepada Allah (baca : meminta hak), namun kita lalai melaksanakan kewajiban kita kepada Sang Khalik…padahal Allah menyuruh kita banyak beribadah kepada-Nya. Allah sangat senang sekali kalau kita hamba-Nya rajin datang dan ingat pada-Nya….

Banyak yang kita minta, walau sering yang kita minta (mungkin) tidak sejalan dengan kehendak Allah. Kita sering memaksakan (keukeuh) kehendak kita…tolong ya Allah, kabulkan doa hamba-Mu ini….sehingga ketika Allah tidak mengabulkan, kita (juga) sering pundung, ngambek, bertanya-tanya, kenapa ya, Allah kok tidak mengabulkan permintaanku…kenapa, kenapa dan kenapa…

Bila kita renungkan firman Allah SWT dalam S. Al Baqarah 216 :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak ketahui”.

Jadi mungkin saja, saat kita memohon sesuatu kepada Allah (sampai kita mati-matian berdoa), namun ternyata tidak dikabulkan, karena Allah SWT adalah Yang Maha Mengetahui…bila apa yang kita minta dan Dia mengabulkan permintaan kita tsb, maka hal itu tidak akan membawa manfaat dan barokah bagi diri dan kehidupan kita…Jadi kita harus bersyukur kepada-Nya, walau pada saat doa kita ada yang tidak dikabulkan, karena sesungguhnya Allah akan sangat mengetahui apa yang terbaik dan dibutuhkan bagi umat-Nya. Jangalah kita memaksakan sesuatu tersebut.

Demikian juga bila terjadi sebaliknya, apa yang kita tidak minta, tapi ternyata Allah memberikan sesuatu kepada kita (atau Allah memberikan hal yang berlawanan dari apa yang kita minta). Kita malah menyesali apa yang terjadi pada kita, padahal menurut Allah Yang Maha Mengetahui…hal itu akan membawa kebaikan dan kebarokahan bagi kita. Mungkin menurut sudut pandang kita hal itu tidak enak/tidak baik, namun di balik itu semua, apa yang terjadi pada kita, PASTI justru yang membawa kebaikan dan sebenarnya “lebih dibutuhkan”…percayalah karena Allah SWT adalah Yang Maha Tahu.

Pada dasarnya, kita harus selalu berprasangka baik kepada-Nya. Menyakini bahwa ketentuan apapun yang ditetapkan Allah bagi kita merupakan yang terbaik, sejalan dengan doa yang selalu kita ucapkan dalam setiap kita shalat, ihdinash shiraathal mustaqiim. Maka berserah dirilah kita pada-Nya…dalam S. At Thalaq 3 : “ Barang siapa yang menyerahkan dirinya pada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya (memeliharanya)”.

Sebaiknya kita (selalu) menikmati dan mensyukuri atas apa yang sudah Allah SWT berikan dan terjadi kepada kita umat-Nya. Percayalah, Allah sangat tahu dengan apa kita butuhkan. Dengan bersyukur kepada-Nya, Allah akan lebih (sering) memberikan kita hal-hal yang baik dan bermanfaat….aaaaamiiiin…insya Allah….

Regina
9 September 2008

Ujian, Sabar+Shalat, Tafakur, Lulus Ujian


“UJIAN, SABAR+SHALAT, TAFAKUR, LULUS UJIAN”

Dear Diary……

Waktu hari minggu malam yang lalu, udah malam banget sekitar jam 23.00 telpon di rumah berdering, suamiku yang angkat, tapi tak ada suaranya…..tak lama terputus. Dari caller ID yang terlihat pada pesawat telpon, aku tahu siapa yang telpon tadi. Aku telpon balik sahabatku itu, nada sambung dan tak lama kemudian diangkat, namun tak kudengar suara apapun, tak lama kudengar suara isak tangis.

Kupanggil nama sahabatku….”Bu (pada tulisan ini, aku panggil dia dengan sebutan “Ibu” aja yah….) ada apa? Kenapa elo nangis? Ayo dong cerita….please…!!” Kuminta dia untuk berhenti menangis dan mulai bercerita padaku. Agak lama (dan lumayan sabar aku menunggu) akhirnya keluarlah suaranya…..

“Aduh Ghie…gue tertimpa musibah, kok bertubi2 amat yah….gue nggak kuat, semua datang di saat bersamaan….kenapa Allah kasih ini semua ke gue?” suara Ibu terbata-bata sambil menangis memulai pembicaraan. Waduh hatiku langsung kaget juga nih…musibah apa yang sedang menimpanya??!!

Kukumpulkan semua ketenangan dalam hatiku dan kuajak dia berbicara, “Bu, apa elo mau sharing ama gue? Tadi elo kan udah telpon gue kan sebelumnya? Kalo elo emang mau sharing, gue dengerin kok Bu…” sambil harap-harap cemas aku berharap dia mau buka suara lagi….

“Bukannya apa-apa Ghie, biasa masalah keluarga gue, lanjutan yang kemaren itu….elo kan sudah sempat gue ceritain….” Dan mulailah dia bercerita dengan runut mengenai masalah keluarganya….bla..bla..bla…dan seterusnya.

Dalam tulisan ini, aku tidak perlu secara detail menggambarkan masalah si Ibu itu…tapi memang masalah dia lagi berasa banyak banget!! Ibu kebingungan bagaimana dia harus hadapi masalah yang segitu banyak? Lalu kudengarkan semua curhat dia malam itu….sambil berpikir gimana cara menenangkan dia.

Oke, setelah beres selesai dia cerita, aku mulai mencoba sedikit demi sedikit merespon. Sumpah Ya Allah, aku juga bingung nih….soalnya dia minta tanggapan, respon dan solusi dari aku, sementara aku tadinya cuma ‘siap sebagai tempat sampah’ alias tempat sharing aja, atau kalo kata Psikolog mah jadi seorang “Pendengar Aktif” saja…..

Well, sekelibat aku teringat dengan materi pengajian yang diberikan oleh Ustadzah Teh Mimin yang udah lama banget! “Bu, seingat gue, elo datang kan pada waktu kita ngaji Teh Mimin, membahas mengenai “Manajemen Diri Wanita Muslimah”, salah satunya kan ada tentang “Manajemen Respon Emosi”. Mungkin elo bisa menerapkan skala prioritas, dari sekian masalah yang numpuk datang kepada elo itu, mana yang paling prioritas harus segera dicari solusinya. Menurut elo mana yang mau elo paling prioritaskan?

Si Ibu terdiam aja…lumayan lama juga, kemudian dia bilang, “Gue mau prioritaskan hubungan gue dengan suami dong!” Alhamdulillah, dia bisa menentukan mana yang mau diprioritaskan untuk penyelesaian masalahnya. Selanjutnya dia bilang, “Terus gue mau prioritaskan masalah dengan mama gue”. Akhirnya dia lanjut dengan pertanyaan bagaimana solusi untuk 2 masalah yang dia prioritaskan tersebut. Setelah berdiskusi dengan panjang lebar, akhirnya dia menemukan sendiri bagaimana bentuk solusi masalah yang akan dia coba besok selesaikan.

“Bu, semoga masalah-masalah yang datang ini bisa jadi UJIAN yah…jangan dianggap COBAAN, tapi kalo boleh gue sarankan, better elo anggap ini UJIAN NAIK TINGKAT KEIMANAN elo….karena Allah sayang sama elo. Yakinkan bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan elo, kan di dalam Al Qur’an Allah sudah janji (Al Baqarah 286), Allah tidak akan pernah ingkari janjiNya. Anggap aja, selama ini kita sekolah kalau datang ke pengajian, ke parenting class atau acara apapun atau dalam kehidupan kita ini, di mana kita bisa mendapatkan banyak “Materi Pelajaran tentang Kehidupan”. Kayanya mungkin kita udah banyak banget kan dapat materi pelajarannya, jadi sekarang Allah anggap elo harus dikasih “SOAL UJIAN” dari materi pelajaran yang sudah elo dapatkan selama ini…..semoga semua materi yang sudah kita dapatkan, bisa kita OLAH dengan baik dan mendapatkan JAWABAN atas SOAL UJIAN dari Allah tadi….Semoga elo bisa LULUS UJIAN KEIMANAN dengan nilai cum laude, untuk mencapai cita-cita elo kan….Mencapai DUNIA BAHAGIA AKHIRAT SURGA! Aaaamiiiin……”
(Waduh ini omongan aku panjang juga ke sahabatku ini….mengalir aja kaya air sungai ke muara….Subhanallah, semoga yang aku omongin tadi atas bimbingan pentunjukMu Ya Allah…..)

Alhamdulillah malam itu selesai juga pembicaraan di telpon dan kuharap sahabatku bisa tidur tenang sebelum shalat tahajud katanya. Subhanallah…Ya Allah tolonglah sahabatku dalam menemukan petunjukMu….

Iyyaka na’budu, wa iyyaka nasta’in…..
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan….

Dear Diary…..

Dari curhat sahabatku itu, aku coba ambil hikmah atau makna yang semoga insya Allah bisa bermanfaat bagi diriku…. Yah, namanya juga lagi berusaha supaya bisa terus berTAFAKUR dalam hidup ini…..
Hari ini adalah hari ketiga setelah sahabatku curhat padaku….aku juga (lagi) mencoba TAFAKUR, apa saja yang bisa kuambil hikmahnya ya buat hidupku…

Banyak juga yang aku dapat dalam 3 hari ini. Aku sempatkan baca buku-buku, baca materi pengajian dan parenting, diskusi dengan beberapa sahabat ruhaniahku, ada beberapa kejadian melintas padaku….Allah sungguh berikan warna-warni dalam hidupku…syukur Alhamdulillah…..

Kalau Allah kasih masalah atau cobaan atau musibah, aku lebih baik memandangnya sebagai suatu “UJIAN” untuk naik tingkat keimanan atau malah sebagai “HADIAH” tanda cinta Allah kepada umatNya, supaya aku bisa semakin dekat dengan Sang Khaliq. UJIAN atas materi “pelajaran” yang sudah aku dapat dalam menjalani kehidupan dan UJIAN dalam mencapai tujuan hidupku yaitu DUNIA BAHAGIA AKHIRAT SURGA.

Kalau aku selalu ingat dengan ber-SYUKUR, semoga Allah akan berikan (ekstra) SABAR pada saat aku menghadapi UJIAN HIDUP tersebut, aku bisa berpikir jernih dan tenang dalam menjalankan UJIAN tersebut. Jangan lupa SABAR+SHALAT supaya aku terus selalu mengingat kehadiranNya dalam hatiku. Semoga dengan SABAR+SHALAT (tambah DOA dan DZIKIR), Allah akan memberikan pertolonganNya padaku.

Aku harus tetap melakukan proses IKHTIAR yang OPTIMAL dalam mencari solusi yang terbaik dalam UJIANku itu, namun tetap PASRAH dan IKHLAS pada akhirnya, karena aku sebagai manusia cuma bisa usaha dengan IKHTIAR yang MAKSIMAL/OPTIMAL, namun tetap saja harus YAKIN bahwa HASIL AKHIRnya hanyalah ALLAH yang bisa tentukan dan berkuasa.

Aku juga harus YAKIN bahwa :
- Allah tidak akan memberikan UJIAN yang melebihi batas kemampuanku, karena ALLAH MAHA TAHU atas kemampuanku dan apa yang terbaik dan dibutuhkan olehku;
- Allah telah berjanji akan memberikan jalan keluar dan kemudahan setelah datangnya kesusahan, kesulitan (UJIAN) bagi umatNya;
- Allah akan memberikan YANG TERBAIK dan YANG DIBUTUHKAN oleh aku, bukan apa yang aku minta padaNya;
- Allah memberikan ujian dalam bentuk dan peristiwa yang berbeda-beda bagi masing-masing umatNya, namun segala bentuk dan peristiwa (bisa susah maupun keadaan senang, ujian kan bisa berupa dapat NIKMAT ataupun BALA/SUSAH) itu tidaklah menjadi penting, karena yang TERPENTING adalah untuk LULUS dalam menjalani UJIAN tersebut……

Jangan lupa selalu TAFAKUR atas Ujian ataupun Hadiah yang Allah berikan kepada aku, supaya aku bisa terus memaknai kehidupan yang aku jalani di dunia ini. Dengan tafakur, semoga aku bisa lebih me”RENUNG”kan dan MEMAKNAI segala nikmat yang telah diberikanNya, sehingga aku bisa lebih ber-SYUKUR atas nikmat karunia Allah SWT. Semoga dengan berSYUKUR, Allah akan selalu limpahkan karunia nikmat barokah yang lebih baik dari sesungguhnya yang aku kira……

Pada akhirnya setelah UJIAN dilalui….semoga aku bisa melewati dan LULUS ujian tersebut dengan nilai CUM LAUDE, sehingga aku bisa menambah nilai dengan nilai biru dalam raport kehidupan milikku…..dan memperoleh apa yang namanya DUNIA BAHAGIA AKHIRAT SURGA.

Dear Diary…..
Semoga apa yang kutulis hari ini, bisa selalu mengingatkan aku pada ALLAH Sang Khaliq….Subhanallah….Sungguh Ya Allah, hanya kepada Engkaulah aku menyembah dan hanya kepada Engkaulah aku memohon segalanya….memohon pertolongan…..Allahu Akbar…..Hanya kepada Engkaulah aku kembali….Ya Allah tunjukkan aku jalan yang lurus seperti jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat…..aaaaamiiiin…..

Ya Allah….semoga Allah SWT mengabulkan doaku…..

Regina
Bandung, 14 Januari 2009

Ini sekedar sharing atau curhat aku….semoga membawa barokah dan manfaat. Tulisan ini atas inspirasi dari curhat seorang sahabatku…..Semoga Allah SWT selalu berikan petunjuk dan hidayahNya supaya sahabatku bisa lulus UJIANnya dan LULUS dengan nilai terbaik….mencapai DBAS….

Sumber :
Banyak buku2 dan diskusi
Materi pengajian MT Karima
Materi Parenting Class

Niat Baik dan Hijrah

NIAT BAIK dan HIJRAH

Suatu sore aku sempat ngobrol ringan dengan suamiku…
Cerita tentang seorang sahabat yang tak henti dirundung cobaan.
Kali ini kuceritakan tentang cobaan yang paling terakhir terjadi
(sebelum2nya aku juga selalu sharing dgn suamiku tentang kejadian yg menimpanya)
Jadi suamiku pasti update banget dengan cerita tentang Diza, sahabatku itu.

Subhanallah, betapa sedih melihat keadaannya saat ini.
Kalau aku mo flashback ke belakang, betapa jauh dengan waktu pertama kali kenal.
Jaman dulu, mmmh apa ya…yg tidak Diza punya..boleh cek deeh…
Bukan mau sombong atau apa…tapi memang keadaannya sungguh tercukupi.
Ini kalo dilihat dari sudut materi, malah mungkin lebih dari cukup…
Kehidupan bahagia, mapan, lengkap!
Diza yg cantik, pintar, (insya Allah) shalehah (malah dia sudah berani ambil keputusan untuk berhijab, walopun sempat exit permit dari suaminya agak susah keluar)..
keluarga yg harmonis (ada suami n anak2 yg lucu)…
Allah SWT begitu baik dgn mencurahkan kenikmatan yg tiada henti…
Namun yah mungkin itu yg terlihat oleh kasat mataku dan teman2 lainnya…
Dunia ini bulat dan terus berputar, ada saat di atas, ada saat di bawah.
Cobaan (baca : Ujian) yg datang macam-macam…
Usaha yg bangkrut, suami tiba-tiba di-PHK, anak2 bolak balik sakit,
Orang tua juga sakit, utang menumpuk, aset2 dijaminkan, aset2 dijual,
Tidak punya mobil, semua seperti efek domino kejadiannya….terus..terus…

Sekarang mana ada yg percaya kalo Diza sedang dalam kesulitan.
Kecuali segelintir orang yg benar dalam posisi sahabat2nya…
Di mana Diza dapat menumpahkan semua keluhan, kesusahan, kegalauan....
Sebagai sahabat, aku dan Asha, Rayi, Elis, Fanti sudah coba membantu.
Yah, membantu semampu kita tentunya…
Bisa bantu waktu untuk menjadi tempat curhat, bantu tenaga, bantu materi….
Apalah semua yg bisa kita bantu pasti kita berikan….
Sampai Diza pun merasa tidak enak, namun kita semua selalu menyakinkan
Bahwa inilah gunanya suatu persahabatan ato friendship bu…

Sudah beberapa kali, aku dengar…
Diza bertanya…baik bertanya untuk dirinya sendiri ataupun bertanya pada kita2…
“Aduuuh…ada apa lagi yah…kurang apa lagi yang harus aku lakukan…kurang ibadah apa lagi…kurang infak atau sedekah..kurang…kurang..kurang apa yah…??!!!”
Wajahnya bertanya dengan kegalauan dan kebingungan…
Kita pun tak tahu jawabannya….karena smua iturahasi Illahi…
Kita tidak dapat menilai bentuk ibadah seseorang kepada Illahi…
Nilainya…semua Allah SWT yang memberikan nilai…entah biru atau merah.
Kalaupun ada yg merah…(mungkin sampai minus) tak ada yg tahu..

Suamiku pun sore itu sdh dengan telatennya mendengar ocehanku…
Yang mungkin masih terdengar sama dengan hari2 yang lalu…
Hanya mungkin bentuk ujian kali ini yah..beda lagi.
Namun dia menjawab dengan bijak…

“Bu, ujian hidup Diza memang terjadi dengan izin Allah….tidak untuk dipertanyakan,
Namun untuk disikapi, ditafakuri, dinikmati, diambil hikmahnya….
Seperti yang lalu2…kamu selalu cerita tentang Diza yang sudah maksimal dalam berusaha
Maksudnya berusaha baik dalam hal duniawi maupun ibadahnya..
Diza semakin rajin shalat tahajudnya, puasa sunnahnya, memberikan sedekah dan infak, maupun hal2 lain yg bermanfaat….
Tapi ujian ini bukan buat Diza semata…namun juga untuk suaminya kan?
Apa suaminya sudah bertafakur? Sudah membuka hatinya untuk bersujud kepada Sang Penguasa Semesta? Apa dia sudah mulai mau melakukan ibadah shalat 5 waktu?
Mungkin Allah SWT masih menganggap sang suami masih sombong!
Ini adalah sentilan, cubitan dan peringatan untuk suaminya juga Bu…
Bukan untuk Diza semata…krn mereka sudah dalam satu ikatan.
Apalagi sudah anak2 dan dia itu adalah seorang kepala keluarga.
Mereka semua harus solid/kompak dalam suatu ikatan keluarga…
Apabila ada yg bisa menggerakkan hati suaminya, subhanallah,
Mungkin Allah SWT akan lebih melapangkan jalan kemudahan
atas segala masalah dan ujian hidup mereka berdua…
Namun yang terpenting adalah….”Niat baik dan kemauan untuk Hijrah”
Niat baik bahwa bersungguh2 dalam melakukan ibadah yg membawa kebaikan kan
perlu dimulai dgn niat baik…
Serta adanya kemauan untuk Hijrah, kemauan untuk mau meninggalkan
Kebiasaan yang lalu, kehidupan yang lalu, pindahlah, hijrahlah…
Menuju kebiasaan yg baik, yg dilakukan semuanya dengan niat karena Allah…
Insya Allah…Allah akan memberikan karunia-Nya, kebarokahan-Nya….”

Aku diam sejenak…mencoba mencerna smua yg baru saja disampaikan suamiku
Mmmhhh….”Niat Baik dan Hijrah”….???
Yah mungkin itu yg belum ditemui oleh suaminya Diza…
Jadi mungkin walaupun Diza maksimal berusaha sedemikian rupa
Namun Diza hanya seorang diri, bukan berdua bersama suaminya!
Karena sebenarnya mereka berdua adalah “sebuah Tim”
Sudah seharusnya mereka berdua harus sama-sama kompak, satu misi dan visi,
Satu tujuan…..mencapai dunia yang bahagia dan menggapai keabadian akherat dlm surga….
Aaaaamiiiiin….

Sebuah cerita dari seorang sahabat...
semoga bisa menjadi cerminan diri...
bahwa kita (suami-istri) harus kuat, kompak dan bersama selalu...
menjunjung suatu nilai kebersamaan dalam
apa yg disebut "KELUARGA".......

Regina
17 November 2008

Sabtu, 09 April 2011

Dalam 1 Hari

“Dalam 1 Hari..”

Bangun pagi, kuucap Alhamdulillah dalam hati, KAU berikan aku hirup udara
Bismillah, niat baik untuk memulai hari ini dengan niat lillahi ta’ala
Shalat subuh begitu tenang disambung membaca kalam Illahi

Pagi, sahabatku telah melewati rentang perjalanan 13 tahun perkawinan
Syukur Alhamdulillah untuk kebersamaan mereka dalam perkawinan
Semoga aku pun bisa terus melangkah bersama suami dalam ibadah perkawinan…

Siang, aku diperlihatkan oleh ustadz, film yang menggambarkan akhirnya dunia
Sungguh menakutkan, semua orang berhamburan lari menghindari kehancuran
Namun ku menyadari, ke ujung manapun, semua milikMU & kita tak bisa mengingkari

Pulang ngaji, aku bersama para sahabat sharing tentang keberadaan ‘Soulmate’
Sahabatku cerita tak ada ‘Soulmate’, sampai benar pasangan itu dipisahkan oleh maut
Karena Allah punya rahasia untuk setiap hambaNYA, jadi syukuri apapun yang diberikanNYA

Sampai rumah, tiba-tiba mba ditelpon ibunya diminta untuk pulang segera
Kugelar sajadahku untuk shalat, kemudian memohon apa yang terbaik untuk kejadian ini
Mba bilang, dia tidak mau pulang, karena gajinya ingin ditabung dulu, Alhamdulillah…

Sore hari setelah mengantar anak les, sahabatku nun jauh berkabar dia sakit kanker
Ya Allah berikan dia kekuatan dan semangat hidup untuk terus berjuang dan ikhtiar
Kuceritakan padanya, sahabat yang lain bisa survive dengan niat ingin lulus UJIAN Allah…

Saat menjemput anak les, angin berputar, hujan besar dan petir tak henti bagai blitz kamera
Teringatku pada film tadi siang, kumemohon padaMU, aku ingin segera sampai rumah
Membawa 2 buah hatiku selamat dan segera melakukan shalat Maghrib bersama

Saat menemani anak belajar, kuhubungi sahabatku yang lain, dia sudah lama tak berkabar
Ternyata tetap seperti kemarin2, nomor Hpnya tak bisa kuhubungi dan entah di mana dia
Ya Allah memang dia sedang dalam masalah, namun berikan dia petunjukMU

Menjelang tidur, sms masuk berkabar anak sahabatku masuk RS karena DBD…
Subhanallah, kuatkan sahabatku dan anaknya, semoga ENGKAU menyembuhkan
Biar buah hatinya kembali ceria dan sang ibu bisa kembali menyebar da’wah Illahi…

Ya Allah, ternyata dalam 1 hari ini banyak yang terjadi…
Kucermati dan kurenungi satu per satu untuk kumaknai dan mengambil hikmahnya
Ya Allah, syukur Alhamdulillah untuk hari ini, aku banyak belajar tentang kehidupan
Apa yang terjadi memang menjadi “warna” indah dalam hidupku
Baik itu hal yang menyenangkan atau pun hal yang tidak enak
Namun kalau disikapi secara positif, Insya Allah akan memberikan arti yang indah
Ya Allah, terima kasih untuk hari ini, aku mau tidur dulu…..
Semoga besok ENGKAU akan berikan “Warna Indah” yang lain….

Regina
3 Desember 2008

Dalam Hidup Ini

"Dalam Hidup Ini...."

Di dalam KEHIDUPAN manusia itu sebenarnya....

terjadi memang selalu dengan kehendak-NYA. ijin-NYA dan rencana-NYA
sehingga tidak ada yg terjadi secara KEBETULAN biasa...
namun semua memang karena skenario-NYA
karena dia MAHA TAHU, maka yakinlah semua yg terjadi
merupakan hal yg SEBAIK-BAIKNYA untuk hambaNYA (S.At Tiin:4)
maka sepantasnyalah kita selalu BERSYUKUR atas nikmat dan karuniaNYA
Jangan pernah kita dustai segala rahmat dan nikmatNYA (S. Ar Rahmaan)
dengan bersyukur, yakinlah Allah akan memberikan lebih dari apa yang kita kira...
dan Allah akan memberikan kepada kita apa yang kita BUTUHKAN,
bukanlah sesuatu yang kita MINTA padaNYA...
karena semua yang diberikanNYA selalu ada HIKMAH di balik itu semua..
tinggal kita, bisa mengambil manfaat Hikmah tersebut secepatnya, atau nanti, atau malah terlewat sama sekali tanpa kesan berarti...

untuk itu...kita memang harus TAFAKUR setiap saat,
supaya Hikmah itu tidak akan berlalu begitu saja melintas tanpa makna dan arti...
supaya Hikmah yg ada selalu dapat bermanfaat bagi kehidupan kita....
Sehingga kita dapat mencapai DUNIA BAHAGIA, AKHIRAT SURGA
dengan ketenangan jiwa dan santapan ruhani yang QUR'ANI...
untuk kembali ke pelukan erat sang Illahi...

Regina
3 Desember 2008

Btw, kalo kita mau bahagia, hanya kitalah yg bisa menentukan apakah kita bahagia atau tidak.
Insya Allah kalau kita bisa menerapkan ketentuan pedoman hidup dalam Al Qur'an
dan meneladani tindakan Rasulullah sebagaiman terangkum dalam haditsnya...
Capailah BAHAGIA itu...untuk menenteramkan dan menenangkan JIWA kita...

Mengutip definisi BAHAGIA :
"Kebahagiaan adalah rasa senang dalam jiwa yang tenang yang penuh rasa syukur"- Mario Teguh
Bahagia terjadi pada saat kita merasa SENANG (happy)
di mana kita telah menemukan KETENANGAN JIWA...
yang selalu diliputi rasa SYUKUR pada ILLAHI yang TAK PERNAH TERPUTUS...
Subhanallah...

Kamis, 31 Maret 2011

Berdoa

Just sharing.... sebuah tulisan yang jauh dari sempurna, sebagai suatu pengalaman diri, semoga manfaat. Sungguh kesempurnaan itu mutlak milik Allah SWT semata... Happy reading....

“BERDOA”

Dalam Surat Al Mukmin : 60
“Berdoalah padaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”

Jadi sebenarnya Allah SWT sangat menyarankan kita umatNya untuk berdoa dan memohon padaNya. Doa adalah salah satu media komunikasi kita dengan Allah. Segala macam yang kita minta, maka mintalah padaNya, karena kita yakin bahwa Allah adalah tempat meminta dan memohon…..Berdoalah padaNya sebagai tanda syukur kita pada Illahi atas semua nikmat yang Dia limpahkan….

“Iyyaka na’budu, wa iyyaka nasta’in…..”
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan….

Jadi apapun yang kita inginkan, maka sampaikan kepada Sang Illahi, karena hanya Dialah satu-satunya tempat untuk memohon apapun…Sungguh Allah Maha Kaya Ya Malik…..Maha Pengasih Yaa Rahman……
Janganlah kita menjadi mahluk yang sombong, seolah-olah tidak butuh padaNya, sehingga kita tidak butuh doa…

Memangnya kita bisa memenuhi kebutuhan kita tanpa campur tangan Allah Sang Maha Pencipta?
Tak ada di dunia ini yang terlepas dari campur tanganNya…. keadaan fisik tubuh kita, udara yang kita hirup setiap hari, tanah tempat kita bercocok tanam, semua….ini adalah ciptaan-Nya….bila kita tafakuri lagi, sungguh Allah banyak beri kenikmatan bagi umatNya, maka bersyukurlah padaNya dan berdoalah….

Berdoa memang satu sarana berkomunikasi dengan Allah…isinya bisa memohon sesuatu ataupun merupakan refleksi tanda syukur kita.

Dalam hadits Bukhari :
Rasulullah berdoa “Ya Allah, Engkaulah Tuhanku…tak ada yang patut disembah selain Engkau. Engkaulah yang menciptakanku dan akulah hambaMu. Akan kutepati janjiku kepadaMu dengan seluruh kemampuanku. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan-kejahatan yang telah kuperbuat. Aku mengakui di hadapanMu anugerah yang Engkau limpahkan kepadaku. Dan kuakui dosa-dosaku. Ampunilah dosa-dosaku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosaku selain Engkau”.

Doa Rasulullah dalam hadits Bukhari ini merupakan utamanya doa untuk memohon ampunan Allah (Sayyid al istighfar).
Doa ini mencakup makna secara global tentang tobat, berisi segala kebutuhan dan mengandung segala persoalan. Rasul mengatakan, bila doa ini dibaca seseorang pada waktu pagi hari, lalu ia meninggal dunia sebelum datangnya malam, maka ia akan menjadi penghuni surga (subhanallah…). Begitu juga bila ia membacanya pada malam hari, dan ia meninggal dunia sebelum datangnya siang, maka ia juga akan akan masuk surga (subhanallah…)…

Doa bukan sekedar sarana memohon pertolongan, ketika mengalami musibah atau kesulitan. Doa juga merupakan sarana meminta kepada Allah untuk meningkatkan kualitas diri, sehingga dapat melakukan kegiatannya dengan baik dan benar. Doa di sini berfungsi sebagai tempat memohon rahmat dan karunia agar perjalanan hidupnya senantiasa dalam lindungan Allah dan Allah selalu bersamanya.

Dalam Surat Al Baqarah : 152
“Maka ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku akan ingat pula padamu dan bersyukurlah kepadaKu, janganlah kamu mengingkari nikmatKu”

Sungguh Allah telah banyak limpahkan nikmat, maka kita harus selalu ingat padaNya dan bersyukur padaNya. Yaa Allah….jadikan kau hambaMu yang selalu bersyukur atas segala karunia dan nikmatMu, jangan jadikan aku hamba yang kufur akan nikmatMu….

Berdoa juga merupakan suatu aktivitas ibadah, karena doa yang dilakukan adalah salah bentuk satu pengabdian kita kepad Allah. Malah bacaan-bacaan dalam shalat pun itu dapat dikatakan rangkaian doa kita kepada Allah. Ketika seorang berdoa, maka ia hanya menggantungkan segalanya pada Allah dan memalingkan dirinya dari mengharap kepada selain Allah. Sabda Rasul yaitu “Doa adalah ibadah”.

Berdoalah kita untuk mecapai apa tujuan hidup kita. Allah yang dapat membantu kita dalam mencapai tujuan kita mencapai “Dunia Bahagia Akhirat Surga”.
“Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati” (Surat Al Baqarah : 38).
“Barang siapa taat pada Allah dan rasulNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga” (Surat An Nisaa : 13).

Maka bila ingin merasa bahagia dan mencapai surganya Allah, jadikanlah Al Qur’an dan hadits Rasul sebagai pedoman hidup kita. Semua yang kita lakukan dalam hidup ini, lakukanlah berdasarkan ketentuan dalam Al Qur’an dan teladan Rasulullah….

Doa Sapu Jagad :
Rabbanaa aatina fid dun yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaabannaar….
“Ya Allah Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka” (Surat Al Baqarah : 201).

Apapun yang kita lakukan niatnya hanya mencari pahala dariNya sebagai suatu amal shaleh dan ibadah kepada Sang Khaliq….Dirikanlah shalat selalu dan berdoalah selalu padaNya…
Supaya Allah selalu memelihara kita dalam perbuatan yang baik yang merupakan amal shaleh dan mengijinkan kita untuk termasuk dalam golongan orang yang diberikan nikmat untuk masuk ke dalam surgaNya….aaamiiiin.

Regina
Bandung, 21 Januari 2009

Sumber :
- Materi Parenting Class
- Sentuhan Kalbu (Ir. Permadi)
- Doa Ajaran Rasul (Anis Masykhur)
- Shalat, Shalawat, Doa (Agus Wirahadikusumah)
- School of Life (Bayu Gawtama)

Ada Api, Ada Asap

“Ada Api, Ada Asap”

Dalam hidup ini, memang ada hubungan sebab-akibat.
“Tak akan ada asap kalau tidak ada api,
bermain air, basah nanti,
bermain api, terbakar nanti”.


Jadi dalam melakukan sesuatu, haruslah BERPIKIR, supaya kalau mau berbuat sesuatu, harus juga kita berpikir apakah yang akan menjadi akibat dari perbuatan yang dilakukan itu. Jangan asal berbuat namun tidak mau tahu dengan konsekuensinya. Perbuatan apapun, dari mulai perbuatan kecil sampai perbuatan yang besar banget, pasti ada akibat dan konsekuensinya! Jadi kita sudah kudu siap berbuat plus menerima akibat dan konsekuensinya. Siap menerima 1 PAKET LENGKAP lah (tindakan+konsekuensinya). Di sini aku mencoba sharing dari beberapa kejadian yang terjadi di sekitarku, semoga manfaat yah...

Weekend kemarin, anakku Rahma ribut dengan masalah pulsa HPnya. Ternyata dia coba-coba pencet dan akses NSP, bersama teman-temannya, sewaktu pada main ke rumah. Biasalah anak-anak rasa ingin tahu dan coba-cobanya gede banget yah…!! Dia coba-coba ingin coba menggunakan fasilitas NSP dari provider HPnya, ternyata setelah selesai pencet-pencet, dia kaget banget, pulsa HPnya lumayan tersedot dalam jumlah lumayan untuk ukuran jatah anak segede dia. Sisa pulsa hanya tinggal 5.000 Rupiah, untuk 10 hari ke depan!! Bete plus panik pastinya, namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur judulnya. Ini bisa dikatakan contoh yang “ringan” saja, karena kerugian hanya menyangkut sekian rupiah.

Dia coba komplain ke aku, menyatakan bahwa dia sebenarnya tidak berminat langgangan NSP teresebut, namun katanya dia salah klik, jadilah dia register langganan NSP. “Bu, aku nggak maksud kok mau register NSP, pulsaku tersedot jadinya nih…gimana dong bu, masa aku Cuma ada 5.000 Rupiah untuk 10 hari lagi!!”.

Rahma pasti bete dan menyesal. Akhirnya aku ajak dia mengobrol bahwa semua tindakan ada konsekuensinya. Seperti yang barusan dia lakukan itu akan membawa akibat tertentu. Rahma coba-coba klik register NSP, namun baru sekali klik saja, ternyata sudah terdaftar dan akhirnya pulsa miliknya tersedot untuk melakukan pendaftaran NSP tersebut. Jatah pulsa HP Rahma baru saja di-top up 2 hari lalu, so untuk 10 hari ke depan, dia harus “puas” dengan jatah sebesar 5.000 tersebut.

Awalnya Rahma agak bete dan keberatan (pastinya!!), namun akhirnya dia harus (pasrah dan ikhlas) menerima konsekuensi tindakannya tersebut. Aku harap dia dapat belajar sesuatu dari tindakannya itu dan mengambil hikmah bahwa rasa ingin tahu dan coba-coba boleh saja, namun sudah harus siap dengan konsekuensinya baik yang positif dan negatif, sebagai 1 paket lengkap dengan tindakan yang dilakukannya.

Contoh kejadian lain yang levelnya “agak berat” dan bikin bete diriku sendiri adalah adanya serangan virus pada laptopku. Kejadiannya sewaktu aku menyusun thesis. Aku lupa melakukan cek dan scan virus pada saat flashdisk milikku (flashdisk yang biasa aku bawa dan sudah berbagai laptop maupun PC tersambung dengannya) masuk ke dalam plug laptopku. Namanya juga LUPA BANGET, aku santai saja masukkan flashdisk ke dalam laptop, yang pada awalnya berjalan baik-baik saja. Namun ternyata bencana itu datang selang beberapa menit kemudian, laptopku mulai menunjukkan tanda-tanda tidak bersahabat!! Aku mulai panik dan MAYDAY..MAYDAY…aduh ada apa dengan laptop aku nih? Tiba-tiba laptopku byarpet begitu saja tanpa permisi dan ijin terlebih dahulu! Panik pastinya….

Alhasil memang laptopku terkena serangan virus! Langsung lemas banget rasanya aku mengetahui serangan virus tersebut. Laptop aku serahkan pada seorang teknisi yang biasa menangani urusan komputer langganan suamiku. Ternyata file-file yang ada di laptop tersebut hilang bin raib tak berbekas!! Uuuh aku sedih dan bete plus kesal banget sejadi-jadinya! Mau ngambek, tapi ngambek sama siapa, lha wong itu kan akibat keteledoranku juga lagi! Akhirnya aku mencoba menenangkan diri selama 1 bulan (waduh lama banget!) sampai aku merasa “nyaman” kembali berurusan dengan sang laptop yang sudah direcovery tersebut.

Ternyata aku pun belajar, dengan keteledoranku tidak melakukan scan virus terlebih dahulu, konsekuensi yang harus aku terima adalah aku kehilangan file draft thesis yang sedang aku kerjakan doong! Awalnya aku nggak rela, namun tokh hal itu harus aku terima dan aku pasrah untuk memulai menulis draft thesisku kembali. Catet, aku menulis ulang dari BAB I thesisku yang sebenarnya sudah masuk ke BAB IV, waduuuuh......namun akhirnya aku pun dapat mengucapkan Alhamdulillah, rampung juga akhirnya….Allah banyak kasih pertolongan padaku.

Selanjutnya ini mungkin contoh kejadian yang “paling parah” di antara kejadian-kejadian yang aku tulis di sini. Sahabatku cerita di suatu sore tentang suaminya yang ketahuan punya affair dengan teman SMAnya..wadduh..parah nih dalam hatiku! Kejadian itu menurutnya sudah berlangsung sekitar 1 tahun lalu dan baru ketahuan 3 bulan terakhir. Pas ketahuan awalnya sang suami mengelak dan ogah mengakuinya, namun setelah dibeberkan beberapa fakta jelas, dia pun tak bisa lari dari kenyataan, ditambah WILnya itu pun rajin meneror ke rumahnya. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur!!

Sahabatku ini, sudah sakit hati sekali dan sepertinya sudah tidak punya persediaan MAAF dalam hatinya. Jadi dengan kesungguhan hati dia pun menggugat cerai sang suami yang telah bermain api itu. Tinggallah sang suami berulang kali memohon istrinya untuk tidak melanjutkan perkara gugatan cerai tersebut. Dia katanya menyesal banget, karena telah mempertaruhkan semua “HARTA” kesayangannya maksudnya istri tercinta dan 2 anaknya. Dengan egoisnya, sang suami pun mengajukan beribu-ribu permohonan maaf kepada istri, kedua anaknya dan orang tua maupun mertuanya. Sang istri pun kekeuh untuk berpisah saja.

Kalau sudah begini kejadiannya, pengen deh nanya sama sang suami, apa waktu mulai flirting n affair itu, sudah kepikir apa akibat dan konsekuensi yang “mungkin” terjadi dengan keberanian dia melakukan tindakan itu? Kok, setelah ketahuan, dengan gampangnya “Say sorry honey!!” then he pretends everything will be OK! Apa dia tidak berpikir dulu sebelumnya yah, bagaimana rasa sakit hati dari istri dan anak-anaknya tercinta, kalo mereka tahu sang ayah pujaan ternyata berbagi kasih dengan WIL!! Subhanallah….berikan kekuatan untuk sahabat dan kedua anaknya ya Allah, supaya dia bisa kuat membesarkan kedua anaknya yang menjelang remaja, karena bagaimanapun juga kedua anak mereka adalah tanggung jawab bin amanah dari Sang Khaliq!

Sang suami apakah pernah mikir dan ngertiin posisi dia sebagai KEPALA KELUARGA yang notabene IMAM KELUARGA bakal dimintakan pertanggung jawaban di akherat nanti atas amanah dia mengambil seorang perempuan sebagai istrinya dengan ucap IJAB KABUL dan kemudian amanah atas kedua anaknya itu! Allohu Akbar, betapa sombongnya manusia itu… Betapa tindakan tersebut tidak hanya merugikan suami sebagai pribadi, namun juga kepada istri, anak-anaknya juga merembet orang tua plus mertuanya. Setuju kan kalo contoh kejadian ini bisa kita sebut adalah yang “paling parah” ? Mikir dosanya…? Wallahu alam….

Ya Allah, dengan tulisan ini aku ingin jadikan sebagai “REMINDER” buat diriku sendiri supaya selalu BERPIKIR TERLEBIH DAHULU (TAFAKUR) dalam melakukan tindakan apapun, aku harus tahu dan mengerti apa akibat dan konsekuensinya, apakah positif atau negatif, berdampak buatku sendiri atau sampai merembet ke orang lain? Janganlah bermain air, kalau nggak mau basah! Jangan main-main api, kalau nggak mau terbakar! So simple!!

Ya Allah, mohon ingatkan dan bimbinglah aku selalu untuk berjalan di jalan yang lurus dan benar, supaya aku tidak salah jalan, menjauhi tujuan utamaku merasakan bahagia di dunia ini dan untuk kembali padaMU dalam suatu keabadian SURGAMU!! Peliharalah selalu akal pikiranku, akhlaq dan amalanku, niat dan tindakanku, hanya selalu untukMU…Lillahi ta’alaa…

Regina
Bandung, 2 Maret 2009

Selasa, 29 Maret 2011

DIA adalah DIA

Just sharing.... Semoga manfaat!!

"DIA adalah DIA"

Tanpa lisan meminta pun
Tak jarang Dia memberi apa yang dibutuhkan

Tanpa lisan berterimakasih pun
Dia masih tetap memberi

Mestinya, karunia setetes air pun
Sudah cukup tuk sadarkan diri

Lalu mengapa......
Tetesan-tetesan yang menggenang itu
Malah menyuburkan kesombongan diri?

Aku sering lupa berdoa
Tapi Allah memberi juga

Aku serig lupa memberi sesama
Tapi Allah tetap memberiku seperti seorang ibu

Aku pernah berpikir (ampuni aku Allah)
Seandainya aku adalah Dia
Akankah kumaafkan kelakuanku dengan mudah?
Sepertinya tidak

Itulah mengapa
Dia adalah Dia dan aku adalah aku


(Sumber : Sentuhan Kalbu melalui Kultum-Ir. Permadi Alibasyah)

Subhanallah.....
Tulisan di atas tadi benar-benar menyentil lagi buat aku.
Setelah beberapa minggu kemarin liburan, otomatis kegiatan parenting maupun pengajian juga libur mengikuti jadwal liburan anak-anak.
Ada rasa "butuh" lagi siraman untuk ruhaniahku yang ditandai dengan suatu "alarm"...
Bunyinya.."Lobaaat...Lobaaat...Lobaaat...." (dilagukan dengan bunyi nada lagu "Online"nya Saykoji)
Maksudnya ada sudah "LOW BATTERY" niiih kudu secepatnya di-recharge iman dan hatiku...

Pas baca lagi tulisan di atas memang akhirnya jadi mengingatkan aku lagi...
Di saat kebutuhan "ketagihan" akan santapan ruhani, kudu harus segera diberikan!
Khawatir aku akan lepas kehilangan lagi momen-momen berharga yang pernah kugenggam...
Aku ingin selalu dekat dan makin mencintaiMu Ya Allah, jangan pernah Kau tinggalkan aku...

Sebenarnya manusia yang sering menjauh dariNYA, lupa shalat, lupa doa, lupa berdzikir, lupa puasa atau lupa dan lupa lainnya untuk melakukan ibadah demi mengingatNYA
Namun Allah tak pernah meninggalkan umatNYA, tak berdoa atau meminta pun DIA tetap berikan limpahan nikmat.... tak membaca Al Qur'an dan tidak menjadikan Al Qur'an sbg pedoman pun, Allah masih baik pada manusia, sungguh malu aku ini.....
Allah begitu baiknya, di saat aku nagih asupan karena "Lobat"...Alhamdulillah dalam minggu ini paling tidak ada 2 jadwal "santapan ruhani" yang bisa aku datangi...

Kemarin dan hari ini, santapan ruhani tergelar dengan sangat mudah dan nikmatnya...
Kemarin seorang Auk Murat datang berbagi tentang karunia Allah atas pemberian OTAK dan HATI pada tiap manusia yang subhanallah sangat "AMAZING"...
Otak kita memang karya besar Sang Khaliq, betapa Allah memang MAHA SEMPURNA yang mengasihi manusia ciptanNya. Otak manusia yang merupakan sumber pusat "data" manusia yang sangat luar biasa kemampuannya bila dimanfaatkan dan diberdayakan dengan baik dan benar...
Hati manusia adalah jendela hati nurani yang sebenarnya saat diberikan Allah pada tiap manusia adalah dalam keadaan PUTIH, sangat indah.... kenapa kita manusia kok tega mengotori "kesucian hati putih" kita selama hidup di dunia fana yang sementara ini? Apakah tidak merasa malu, kita manusia saat datang menghadapNYA, ternyata HATI itu telah menjadi HITAM dan KERAS tak terawat...Masya Allah...
Ya Allah, aku tidak mau datang padamu dalam keadaan yang tercabik-cabik....

Hari ini pun, Allah ingatkan lagi peran dan tanggung jawab sebagai orang tua untuk membimbing anak-anaknya sebagai TITIPAN ILLAHI...
Namanya titipan, pastinya akan ada waktu pertanggung jawaban atas perbuatan kita di dunia, bagaimana kita menjalankan peran fitrah kita sebagai orang tua...
Anak-anak kita tidak pernah minta dilahirkan, mereka ada karena cinta kasih orang tuanya..
"Didiklah anak-anakmu, karena mereka dijadikan untuk menghadapi masa yang bukan masamu (yaitu masa depan), sebagai generasi pengganti..." (Hadist Rasulullah).
"Orang tua tidak memberi kepada anaknya sesuatu pemberian yang lebih utama dari budi pekerti dan pendidikan yang terbaik" (H.R. Al Tirmidzi).
"Kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan ditanya tentang kepemimpinannya. Imam adalah adalah pemimpin dan dia akan ditanya tentang rakyatnya, dan seorang laki-laki adalah pemimpin bagi anggota keluarganya dan dia akan ditanta tentang anggota keluarga yang dipimpinnya" (H.R. Al Tirmidzi dan Muslim).
Jadi ayah dan ibu harus dapat menjalankan peran dan tanggung jawabnya sebagai orang tua terhadap anak-anaknya, saat penghisaban tiba, tidak akan satu pun yang terlewat dari perhitungannya....

Kemarin pun saat liburan, syukur Alhamdulillah kupanjatkan padaNya, karena sepanjang perjalan yang kami lalui.... sungguh penuh dengan "tanda-tanda" kebesaranNya yang tidak bisa kita pungkiri!
Tak henti kami semua panjatkan rasa kagum plus disertai syukur, bahwa Allah SWT telah limpahkan segala nikmat bagi bangsa ini untuk dapat meraup dan menikmati KARUNIANYA....
Alam pemandangan yang sangat indah, tanah terbentang dengan subur, segala macam tanaman dan pohon tumbuh, laut biru yang indah, kehidupan masyarakatnya yang masih bernuansa tradisional dan alami di berbagai tempat, peninggalan nenek moyang yang belum digali secara serius padahal menjanjikan tempat pariwisata yang elok....SUBHANALLAH.....
Di sisi lain... banyak sampah berserakan, pohon-pohon yang bergeletakan karena penebangan liar, tanah dibiarkan tidak terawat, asap membuat polusi, peninggalan nenek moyang yang ditelantarkan, bangunan-bangunan bersejarah diratakan demi sebuah alasan bisnis dan banyak lagi "kekejaman" manusia terhadap alam dan lingkungannya....
Dan kemudian minggu lalu, di Jumat pagi yang cerah, bom meledak meluluh lantakkan ibukota Jakarta!
Korban tak berdosa pun berjatuhan, kokoh dan megahnya gedung pencakar langit pun runtuh, kesombongan manusia pun diperingatkan....

Ya Allah tolonglah kami ini semua.... jangan ada lagi teror dalam bentuk apapun di bumi Indonesia ini...
Aku tak mengerti, apa memang ini caraMU memperingatkan kami atas semua perilaku dan tindakan kami manusia...terhadap sesama, terhadap lingkungan sekitar, terhadap alam semesta?
Sedih dan miris hati ini tak berdaya melihat tampilan gambar liputan kejadian Jumat pagi itu...
Ya Allah...bimbinglah kami ini untuk selalu menjadi hamba yang BERSYUKUR atas semua karunia dan nikmatMu yang telah kami nikmati.... jangan jadikan kami umat dan bangsa yang kufur akan nikmatMU!
Apalah kami ini hanya debu tak berarti di hadapanMU yang MAHA AGUNG dan MAHA SEMPURNA...

Allah yang aku sayangi....
Aku ingin makin mencintaiMU dalam keadaan dan situasi serta kondisi apapun....makin selalu merasa dekat denganMU, karena aku takut bila jauh dariMU, tak ada "pegangan" yang dapat menarik aku saat "jatuh", aku ingin untuk selalu melakukan amal shaleh demi meraih pahalaMU...
Semoga niat yang baik ini akan dilancarkan oleh MU Ya ALLAH... dalam suatu proses yang indah dan barokah yang disebut suatu "proses kehidupan" di dunia.....

Regina
Bandung, 22 Juli 2009

KETENTUAN SEBAGAI BERKAH

"KETENTUAN SEBAGAI BERKAH"

Mengenali 5 nilai dari ketentuan hidup:

1. Walaupun semua hal berubah dan berakhir, akan memperbarui dirinya sendiri dan bergerak menjalani siklus yang terus berevolusi.

Dalam hidup ini memang benar apa yang kita inginkan dan wujudkan, haruslah dimulai dari diri kita sendiri! Apakah NIAT dan TUJUAN kita tersebut? Semua niat Lillahi ta’alaa! Apakah untuk mewujudkan itu semua upaya sudah maksimal?

Dalam hidup ini banyak pilihan, mau maju, diam di tempat saja (statis) atau malah berjalan mundur ke belakang. Semuanya adalah pilihan kita yang pastinya kudu dipertanggung jawabkan di akhir nanti. Allah memberikan “petunjuk” bagi kita untuk bertanggung jawab atas setiap tindakan kita dalam S. Al Muddatstsir : 37-38, ”Bagi siapa di antara kamu yang hendak mendahului, atau hendak tinggal di belakang saja. Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya”.

Bila ingin adanya perubahan, maka mulailah dari diri kita sendiri, jangan berharap orang lain atau lingkungan di luar akan berubah lebih dahulu. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nikmat yang telah dilimpahkanNya kepada suatu kaum hingga kaum tersebut mengubah keadaannya sendiri. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (S. Al Anfal : 53).

2. Walaupun banyak hal tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana, kita terkadang merasakan sebuah rencana besar sedang bekerja melalui sinkronisitas (kebetulan-kebetulan yang bermakna) yang membuka berbagai kemungkinan yang mengejutkan. “Kebetulan yang bermakna” di sini dilihat dari sudut pandang manusia, seakan-akan itu “pas begitu saja terjadi” dalam hidup kita, namun sebenarnya tidak ada “Kebetulan” dilihat dari sudut pandang ALLAH sang Khaliq.

Dalam kehidupan manusia itu tidak ada yang KEBETULAN. Dalam Surat Al Insyqaaq yang intinya tentang “Terbelah”, yang menggambarkan kejadian kiamat yang sangat dahsyat. Hal tentang “Bukan suatu yang Kebetulan”, bisa dilihat dalam makna ayat 2 yaitu “Dan patuh pada Tuhannya, dan memang sudah semestinya langit itu patuh”. Terbelahnya langit merupakan suatu bentuk kepatuhan alam semesta pada KUASA dan KEHENDAK ALLAH Sang Khaliq. Tidak ada fenomena apapun atau kejadian apapun di muka bumi dan semesta ini yang terjadi karena KEBETULAN. Seluruhnya karena izin dan kekuasaan Allah. Karena “Allah adalah TUHAN SEMESTA ALAM” (Al Fatihah ayat 2) dan kemudian dihubungkan dengan ketentuan “Aku berlindung kepada Tuhan, Sang Pencipta Manusia, Raja Penguasa Manusia, Sembahan/Tuhan-nya Manusia” (Surat An Naas ayat 1-3).

Dalam firman Allah S. At Tin ayat 4 “ ….Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Jadi pastinya apa yang ada pada diri kita (baca : keadaan fisik kita maupun yang kita miliki sebagai titipan dari-Nya) pastilah Allah berikan dalam keadaan sebaik-baiknya. Yakinlah kita akan hal itu…kita dapat hidup sehat, semua panca indra berfungsi dengan baik, dapat menghirup udara dengan gratis, Subhanallah, syukurilah apa yang kita punya dan diberikan oleh Allah.

Bila kita renungkan firman Allah SWT dalam S. Al Baqarah 216 :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak ketahui”.

3. Walaupun hidup tidak selalu adil, ada sesuatu dalam diri kita yang tetap menjaga komitmen pada keadilan dan akan menolak untuk bersikap tidak adil atau membalas dendam.

Dasarnya manusia adalah mahluk yang sosial. Dalam hati nuraninya…jauh di lubuk hati yang paling dalam, manusia punya hati nurani yang fitrahnya adalah “PUTIH”, putih saat dilahirkan ke dunia ini, ingin berbuat yang baik. Namun adanya hawa nafsu dan godaan setan yang membuat manusia dapat berbuat melanggar ketentuan Allah. Jadi bisa berbuat jahat, culas, iri, tidak adil, dendam dan sebagainya. Melanggar komitmen yang telah dijanjikan kepada Allah waktu Allah memberikan kesempatan sang manusia hidup di dunia, saat ruhnya ditiupkan dalam janin kandungan sang ibu.

Persepsi hidup "tidak selalu adil bagiku" adalah suatu sudut pandang manusia. Namun kembali lagi, bila kita pasrah dan ikhlas dlam menjalani hidup ini, maka pertolongan Allah akan datang. Tidak ada lagi persepsi bahwa hidup ini tidak adil! Pada dasarnya, kita harus selalu berprasangka baik kepada-Nya. Menyakini bahwa ketentuan apapun yang ditetapkan Allah bagi kita merupakan yang terbaik, sejalan dengan doa yang selalu kita ucapkan dalam setiap kita shalat, ihdinash shirathal mustaqim. Maka berserah dirilah kita pada-Nya…dalam S. Ath Thalaq 3 : “ Barang siapa yang menyerahkan dirinya pada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya (memeliharanya)”.

Manusia cenderungnya ingin selalu dalam kebenaran. Upayakanlah kita untuk selalu dalam jalan Allah, mohonkan padaNya, selalu berdoa agar selalu mendekat pada Allah. ”Dan apabila hamba-hambaKu bertanya padamu tentang Aku, maka bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan mereka yang berdoa apabila ia mohon padaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi dan hendakalah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam KEBENARAN” (S. Al Baqarah : 186).

Berada dalam jalan kebenaran Allah, maka manusia harus upayakan untuk tetap berkomitmen untuk selalu bersikap adil dalam hal apapun dan jauhkan rasa iri, dengki, dendam, karena sesungguhnya manusia adalah saling mengasihi dan mencintai.

4. Walaupun penderitaan adalah bagian dari kehidupan, kita memiliki cara untuk menghadapinya sehingga kita dapat mengembangkan kekuatan untuk mengatasi penderitaan di masa depan dan membantu orang lain yang sedang menderita.

“Penderitaan” adalah hanyalah sebuah persepsi manusia. Sebuah cap negatif atas suatu hal ataupun kejadian. Sesungguhnya Allah ingin mahlukNya selalu berbahagia dan senang dalam kehidupan yang dijalani di dunia ini. Persoalannya, apakah si manusia tersebut mau nggak merasa BAHAGIA sebagaimana Allah memberikan BAHAGIA tersebut. Bahagia yang sesuai dengan ketentuan Allah dan dalam sudut pandang Allah pastinya. Bukan BAHAGIA dalam persepsi manusia pastinya.

Ingin BAHAGIA? Maka jadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup dan Sunnah Rasulullah sebagai petunjuk pelaksanaannya dalam menjalani hidup di dunia ini. Allah tidak ingin mahlukNya menderita. Jadi apapun yang Allah berikan dalam hidup ini adalah dalam keadaan sebaik-baiknya. Apapun yang telah diberikan dan dititipkan kepada kita (misalkan : fisik kita, harta, jabatan maupun anak). SEMUANYA pasti itulah yang terbaik dan dibutuhkan oleh umat-Nya. Bahagialah dalam hidup ini dengan apa yang kita miliki, karena hanya kita sendirilah yang dapat membuat hidup ini “dirasakan” bahagia. Misalnya secara individu, aku harus punya tujuan hidup yang jelas dan fokus, yaitu mencapai “Dunia Bahagia Akhirat Surga”. Bahagia juga merupakan suatu persepsi dan bersifat relatif (tiap individu manusia punya persepsi yang berbeda).

Hal yang sama dengan persepsi “Bahagia” dan “Penderitaan” di atas tadi. Suatu persepsi yang tergantung bagaimana kita memposisikan dan menyikapinya. Kondisi “bahagia”nya kita, hanya kita yang dapat menentukan, maka jadikan bahagianya kita dengan apapun yg kita miliki dan jangan menggantungkan bahagia itu kepada faktor-faktor lain di luar diri kita (misalnya kita bahagia kalau anakku dapat selalu menjadi juara kelas, segingga pada suatu saat anakku tidak jadi juara, betapa kecewanya…).

Kita memiliki cara untuk menghadapi dan menyikapi rasa “Bahagia dan Penderitaan” itu. Kita dapat mengembangkan kekuatan untuk mengatasi apa yang dianggap “penderitaan atau kesusahan atau musibah” yang terjadi dengan ikhlas bila yakin Allah menyayangi kita dan tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan kita, dengan demikian apa yang awalnya kita anggap sebagai suatu “penderitaan atau kesusahan atau musibah “ itu dapat kita dapat ubah persepsinya menjadi sesuatu yang “Bahagia”. “Maka sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan” (Al Insyirah ayat 5-6).

5. Walaupun orang tidak selalu mencintai dan setia, tidak ada yang akan menghalangi kita untuk tetap menunjukkan kasih kita dan tidak putus asa pada orang lain. Tidak satupun tindakan dari seorang manusia yang dapat menghalangi kapasitas manusia lain untuk mencintai.

Sungguh memang Allah menjadikan manusia itu untuk saling menyayangi, saling mengasihi, saling membantu, saling setia dan saling-saling lainnya. Karena kita adalah mahluk sosial yang membutuhkan keberadaan manusia lainnya dalam berinteraksi. Janganlah egois dan berpikir kita bisa “SENDIRIAN” saja.

”Dan berpegang teguhlah kalian semuanya, pada tali Allah, dan janganlah berpecah belah di antara kamu” (S. Ali Imran : 103). Allah menginginkan kita harus bersatu bukan berseteru. Bersatu juga dalam menjalankan pedoman hidup Al Qur’an, niscaya kita semua hamba Allah akan merasakan kenikmatan hidup di dunia maupun di akhirat (S. Al Baqarah : 201). Subhanallah…

Dalam hadits Rasulullah diriwayatkan “Perumpamaan orang mukmin dalam kasih mengasihi, cinta mencintai dan sayang menyayangi adalah laksana satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, tubuh lainnya ikut merasakan dengan tetap terjaga dan menderita demam” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Ketentuan hidup ini sering dinyatakan dalam arti yang kelihatannya negatif, padahal masing-masing memiliki sisi arti positif. Paradoks diatas menunjukkan dimensi positif dari setiap ketentuan hidup.

Jadi sebenarnya sekarang adalah bagaimana cara kita memandang atau menyikapi hidup ini kan…??! Hal yang negatif pun ternyata bisa jadi sesuatu yang positif! Sudah saatnya kita sekarang untuk selalu ”POSITIF THINKING”.

(**David Richo, seorang terapis, guru dan penulis, yang menekankan pandangan Yung, transpersonal dan perpektif spiritual dalam karya-karyanya).

Regina
Bandung, 19 Januari 2009

Sumber :
The 5 Things We Cannot Change - David Richo
Sentuhan Kalbu & Bahan Renungan Kalbu - Permadi Alibasyah
Bahan Materi Parenting Class Mutiara Bunda

Belajar Bahagia

"BELAJAR BAHAGIA"

Tulisan in merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya “BELAJAR HIDUP”. Semoga bermanfaat bagi kita semua…..

Setelah kita BELAJAR HIDUP, sekarang kita BELAJAR BAHAGIA. Untuk menjadi bahagia, manusia harus punya cita-cita sebagai salah satu motivasi. Cita-cita hidup manusia adalah sehat, dengan sehat seharusnya manusia bisa hidup lebih baik daripada ketika sakit karena aktivitasnya menjadi terbatas. Jadi sehat itu adalah salah satu Karunia Allah yang tidak dapat dibeli oleh uang. Bila badan kita sehat kita bisa beraktivitas kembali. Selanjutnya berkecukupan, berarti tercapai apa yang diinginkan, terhindar dari kecelakaan, dan terbebas dari kesulitan.

Dalam hidup, kitapun mengenal apa yang disebut dengan KEPUASAN, KESENANGAN, dan KEBAHAGIAAN. KEPUASAN adalah kondisi ketika apa yang diinginkan dan dibutuhkan terpenuhi, bisa berupa kebutuhan fisik, bisa juga kebutuhan psikologis. Kepuasan ini sering bergerak naik seiring dengan keberhasilan memenuhinya. Misalnya selalu ingin motor/mobil keluaran terbaru, padahal dianya sendiri belum punya rumah, ada juga yang bersyukur bila punya rumah walaupun hanya type 21 tetapi setelah itu dia meminta lebih dari itu. Jadi hal ini ada unsur menyengsarakannya, tapi bisa menjadikan manusia lebih kreatif lagi. Seperti yang tersirat di bawah ini :

CANDA EMHA
Ketika belum kepingin sudah
Ketika sudah kepingin tambah
sesudah ditambah, lagi, lagi dan lagi
Kita berlari memperbudak diri
Tuhan mengajarkan yang pas-pasan saja


Kita juga mengenal apa yang disebut KESENANGAN, yaitu sebuah pengalaman sekilas yang berkaitan dengan ganjaran tertentu, seperti kesenangan indrawi. Kesenangan ini jarak waktunya sempit sehingga menimbulkan kebosanan, jadi harus selalu dicari cara yang paling terbaru.

Dan inilah yang paling penting dalam hidup kita yaitu KEBAHAGIAAN. KEBAHAGIAAN ini merupakan padanan dalam bahasa arab yaitu Aflaha, falah yang berarti Kemakmuran, keberhasilan, pencapaian apa yang kita inginkan, terus menerus dalam keadaan baik, menikmati kenyamanan, ketentraman dan hidup yang penuh berkah yang kesemuanya terjadi secara terus menerus dan berkesinambungan. Untuk mencari kebahagiaan ini, banyak cara yang bisa kita lakukan, yaitu sekali-kali kita keluar dari rutinitas harian seperti liburan, apakah itu bersama keluarga atau hanya berdua saja bersama suami/isteri. Kita juga bisa belajar bahagia dari anak-anak, coba saja perhatikan jarang ada anak-anak yang migran atau pusing memikirkan sesuatu. Mereka selalu yakin adanya rejeki karena mereka senang berbagi dan bila bermasalah dengan temannya, mereka akan saling mudah memaafkan. Karena bila kita selalu positive thinking dan positive feeling maka akan banyak jalan untuk menyelesaikan masalah, tetapi sebaliknya bila kita selalu negative thinking dan negative feeling maka setiap diberi masalah selalu buntu. Padahal bahagia itu banyak sekali manfaatnya, insya Allah panjang umur, selalu sehat karena penyakit tidak cepat datang, Cerdas dan baik hati karena selalu diliputi emosi positif dimana emosi positif itu akan memperluas pikiran dan tindakan serta membangun sumber daya personal, sedangkan emosi negatif akan menyempitkan pikiran dan pilihan dalam bertindak yang melelahkan.

Orang yang selalu BAHAGIA, itu mempunyai tanda-tanda ORANG BAHAGIA sebagai berikut:
1. Bersyukur jika mendapatkan nikmat.
2. Bersabar jika mendapat cobaan
3. Segera bertaubat jika melakukan kesalahan

Tetapi ada juga orang yang termasuk SYNDROME SUCCESS TOXIC, seperti :
- Self-sightedness : terpusat pada diri sendiri.
- Stress surrender : menyerah pada stress.
- Ups and down : perasaan naik turun dengan cepat.
- Chronics Cynism : sinisme kronis.
- Grouchiness : bersungut-sungut melulu.
- Feeling pestered : mudah tersinggung.

Kalau kita termasuk salah satu di atas, maka ikutilah NASIHAT MASLOW :
“Pergilah ke Rumah Sakit dan dengarkan semua nikmat yang sederhana yang sebelumnya tidak pernah disadari sebagai rasa nikmat , seperti buang air, tidur didampingi pasangan, bisa menelan, menggaruk yg gatal. Karena yang namanya KEBAHAGIAAN itu merupakan pilihan kita, mau BAHAGIA atau TIDAK.

BAHAGIA Vs MUSIBAH
Kebahagiaan selalu bertolak belakang dengan musibah. Musibah memang tidak dapat ditolak, musibah bisa menjadi penderitaan bagi yang merasakannya. Penderitaan itu merupakan perasaan sedih dalam jiwa yang bisa muncul, bisa karena musibah/bukan. Penderitaan itu adalah picture in our head. Jadi kita yang merasakannya membuat suatu sikap, apakah kita akan menciptakan penderitaan itu atau menghindarkan penderitaan itu.

KEBAHAGIAAN itu bisa menular
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Diantara kebajikan setelah iman yaitu memasukan rasa bahagia ke dalam kalbu orang mu’min, membebaskannya dari rasa lapar, dan membayarkan hutang-hutangnya. Tidak beriman seseorang sebelum dia menyayangi orang lain sebagaimana dia menyayangi dirinya sendiri.”

Kebajikan utama setelah Iman yaitu kebajikan yang mendatangkan MANFAAT bagi orang lain dan tidak ada kejelekan yang lebih jahat setelah MUSYRIK, serta berusaha tidak melakukan hal-hal yang membuat orang lain susah dan merasa bersalah, membuat keadaan sengsara seseorang sehingga keadaannya tertekan/terpojok, karena itu akan mendatangkan kerugian juga buat kita sendiri sehingga tidak menjadi pahala untuk kita. Contoh lain, bila kita bertemu dengan orang-orang yang wajahnya memancarkan kebahagiaan maka kitapun akan merasakan AURA BAHAGIA, dan sebaliknya bila kita bertemu dengan orang yang wajahnya tidak menyiratkan kebahagiaan, maka kitapun akan terbawa BETE/bosan.

INILAH JALAN KEBAHAGIAAN, sabda Rasulullah SAW :

“Jika kamu berada dalam tubuh yang sehat, keamanan terjaga dan cukup makanan untuk hari ini, kamu sudah memiliki dunia. Hendaklah kamu puasa dengan apa yang telah Allah bagikan kepadamu, kamu akan menjadi manusia yang paling kaya”.

“Barang siapa yang membebaskan kesedihan di antara kesedihan dunia akan Allah bebaskan kesedihannya pada hari kiamat. Siapa saja yang menyusahkan orang lain yang dalam kesulitan, maka Allah akan menyusahkankannya baik dalam urusan dunia/akhirat. Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hambanya ini selalu menolong saudaranya sesama muslim”.


Jalan Kebahagiaan akan membimbing kita ke JALAN SPIRITUAL, sabda Rasulullah SAW :
“Barang siapa menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, Allah menjadikan kekayaan dan rasa cukup dalam hatinya, mengumpulkan yang tercerai berai darinya dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina
Dan barang siapa menjadikan dunia sebagai cita-citanya maka Allah menjadikan kefakiran dihadapannya, mencerai beraikan urusannya dan dunia tidak datang padanya kecuali yang telah disempitkan baginya. (HR. TIRMIZI)

“Beristighfarlah, barangsiapa Allah tujuannya, niscaya dunia akan melayaninya, namun barangsiapa dunia yang menjadi tujuannya niscaya ia akan letih dan pasti sengsara diperbudak dunia sampai akhir masa”.

Istighfar itu mempunyai keajaiban diantaranya kesempitannya dilapangkan, kesedihannya diberi jalan keluar, rejekinya didatangkan dari arah yang tak terduga. Di dalam tubuh kita, banyak sekali penyakit tapi obatnya cuma satu, yaitu ISTIGHFAR.

Lihat Surah NUH : 10-12 :
“Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya dialah zat yang Maha Pengampun, niscaya dia akan mengirim hujan padamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula didalamnya sungai-sungai.”

KESIMPULAN :

• Hidup adalah anugerah, jangan pernah sedikitpun kita menyia-nyiakan kesempatan hidup, karena hidup ini hanya sementara. Jadi siapkanlah perbekalan dan amunisi untuk sampai ke tempat tujuan kita yang sesungguhnya. Sungguh suatu kerugian yang besar, bila kita sudah cape-cape hidup di dunia tapi tidak masuk surga.
Ingat kembali surah AL HAJJ 22 : 47 :
“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhan adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”.

Jadi apabila jatah umur kita sama dengan Rasulullah SAW yaitu 63 tahun, berarti hidup kita kurang lebih hanya 1,5 jam saja. Sementara di akherat nanti kita hidup kekal abadi.

• Bahagia itu adalah PILIHAN. Yang menentukan kehidupan yang bahagia atau tidak, adalah diri kita sendiri. Berusahalah untuk selalu Posistive Thinking dan Positive Feeling .

• Musibah selalu identik dengan penderitaan, padahal penderitaan merupakan perasaan sedih yang muncul dari dalam jiwa, yang bisa diakibatkan oleh musibah/bukan. Jadi kita yang menentukan sikap, apakah kita akan menciptakan penderitaan itu atau menghindarkan penderitaan itu.

• Kita sering merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia, tanpa melihat contoh-contoh di sekeliling kita. Di bawah ini ada sebuah Kisah Inspiratif, siapa tahu di antara kita ada yang lebih menderita dibandingkan dengannya.

• “Kisah wanita tanpa persoalan”
“Suatu hari seorang sufi bertemu dengan seorang wanita yang wajahnya bercahaya, sepertinya wanita itu hidupnya bahagia sekali seolah-olah hidup tanpa persoalan. Tapi ketika ditanya sufi mengapa bisa demikian, wanita itu menjawab, “Anda salah, saya adalah seorang wanita yang penuh persoalan, bagaimana tidak ,ketika kami sedang melakukan kurban, kedua anak kami menirukan adegan kurban itu sehingga salah satu anak kami menjadi korban. Anakku yang masih hidup melarikan diri ke hutan karena perasaan yang bersalah. Ayahnya menyusulnya, tapi setelah beberapa hari aku mendapat kabar bahwa keduanya mati dimakan binatang. Kemudian ketika aku sedang memasak, tanpa sengaja bayiku tersiram air panas hingga meninggal dunia, dan adikku mati berdiri mendengar ceritaku….”

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang berbahagia karena…selalu bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika mendapat ujian, dan
segera bertaubat ketika menyadari kesalahan plus IKHLAS pada akhirnya, karena hasil akhir , memang KUASA Allah semata. Kita hanya bisa berusaha dan berikhtiar OPTIMAL.
Semoga kita selalu dibimbingNYA agar lulus ujian hidup dan selalu bisa bahagia dalam menjalankan hidup ini dengan tujuan mencapai SurgaNYA.
Aaamiiiin… Ya Rabbul Alamiiiin.

Sumber :
• Materi Pengajian MT Karima oleh Ustadz Budi Prayitno
• “Sentuhan Kalbu” karangan Ir. Permadi A.
• Materi Parenting Class Mutiara Bunda
• Materi Pelatihan Bening Jiwa bersama AUK MURAT